Masih Suka Nyiyir Ke Penjual Ludah? Asal Lo Tau Ini “Komuditas” Terlaris Saat Ini

Timeline sosial media sering banget rame klo bahas penjual ludah. Ramainya karena ada beberapa orang yang kontra, mereka ga sadar klo yang pro banyak juga.

Seoalah-olah jualan ludah adalah transaksi haram dalam kitab jual beli, ini bukan ludah anjay yang kedudukannya sudah jelas dalam fikih.

sedikit cerita, saat corona pecah di Indonesia, tiba-tiba saya kepikiran jualan ludah.

Ludah itu saya bekukan dalam video dan wadahnya di tampung di internet. Benar saya jualan ecourse, saya beri nama sederhana, wa super simpel.

Sebagai sebuah produk ecourse pertama, tentunya masih jauh dari kata sempurna.

Jangan tanya soal isinya. Dalamnya cuman bercerita panjang lebar dan sharing tentang pengalaman saya mengoptimasi whatsapp sebagai kanal penjualan.

Lalu apakah saya salah karena jualan ludah?

Bagi saya pribadi asal tidak berkata bohong dalam ecourse tersebut itu sudah cukup sebagai sertifikat kehalalannya.

Walhasil, alhamdulillah lumayan untuk bertahan hidup beberapa bulan kedepan.

Momen itu tidak bisa saya lupakan, karena disaat yang sama banyak orang berteriak mengutuk keaadaan. Dugaan saya termaksud orang yang sering nyiyir ke penjual ludah.

Saat ini jualan ludah adalah komuditas terlaris di era digital saat ini, terlebih ini lagi musim pandemi.

Ecourse dan webinar memenuhi standar protokol kesehatan, jaga jarak, diam dirumah dan jaga imun.

Hati-hati buat kamu yang masih suka nyiyir, nyiyir itu bisa jadi penurun imun.

Lihat saja ecourse dan webinar bertebaran dimana-mana, hampir semua sendi kehidupan ada ecoursenya, ada webinarnya.

Semua kanal dimainkan, bahkan orang melakukan seminar via zoom dan whatsapp.

Karena memang pasar lagi anget angetnya, orang lagi butuh, orang punya banyak waktu untuk melakukannya.

Pertanyaanya, mengapa ada orang yang nyiyir ke penjual ludah?

Mengapa mereka tidak ikut ramai aja nyemplung sebagai penjual ludah?

Apakah secara kapasitas mereka tidak punya kredibilitas untuk mengkomersilkan ludahnya?

Belum tentu, karena berdasarkan kacamata saya orang-orang nyiyir itu rata-rata para ahli dibidang itu.

Mereka hanya menjadikan nyiyir sebagai tembok pelindung bagi kemalasannya. Mereka malas untuk bergerak apalagi untuk berbuat.

Dilalahnya, saat orang lain sukses jualan ludah, seolah olah mereka yang keciprat bau busuknya.

Asal lo tau aja, kita sebagai penjual ludah tidak mau menjebak masyarakat pada situasi seperti yang di tuliskan Tom Nichols dalam buku fenomenalnya The Death of Expertise.

Masyarakat masih butuh pakar, butuh dokter untuk berobat dan butuh pilot Untuk mengemudikan pesawat untuk di tumpangi.

Hanya saja, jika kamu merasa pakar, plis stop berhenti nyiyir. Saatnya kamu turun gunung, meluruskan yang masih bengkok-bengkok. membenahi yang masih salah-salah.

Mungkin tugasmu ga seberat yang kamu bayangkan. Karena kami sudah buka jalannya.

Yakin saja bahwa kami jualan ludah agar kami bisa bertahan dan ingin tetap bertuhan.

Harusnya setiap ada penjual ludah kamu rapalkan doa-doa terbaik untuknya, agar mereka tidak salah arah.

Jadi setelah ini masih tetap nyiyir ke penjual ludah?

Mungkin ludah mu kurang basah dan cipratannya tidak cukup jauh.

Menarik Lainnya

Tinggalkan komentar