Gak Usah Ngarep Kaya Jika Hidupmu Belum Bermanfaat

Ada satu kalimat yang paling lekat dalam kepala saya di awal-awal memulai bisnis.

“Cari masalah apa yang paling besar di sekitar kamu dan temukan solusinya”.

Kalimat ini diucapkan dengan nada standar namun full stressing oleh sahabat saya, seorang pengusaha muda di Kota Jogja.

Sejak itu, semua produk yang saya buat pasti berasaskan manfaat bagi orang banyak.

Misalnya, saya melihat permasalahan bisnis dari UKM di Indonesia sulit bersaing bukan karena produknya tidak bagus, atau pemasarannya kurang spartan, tapi paling banyak disebabkan oleh manajemen yang berantakan, makanya saya coba mencari solusi dan lahirlah Detapos, sebuah aplikasi kasir dan keuangan.

Kombinasi antara banyaknya masalah ditambah produk yang tepat, sama dengan uang yang banyak. Dan uang salah satu barometer kaya yang disepakati semua orang.

Sayangnya banyak orang saat ini salah mengkombinasikan, selalu duit di taruh di depan dan masalah ditaruh paling belakang. Kadang-kadang ga ada solusi. Asem.

Makanya gak heran, kata wani piro jadi tagline populer ketika ada orang yang meminta tolong.

Saat ini kebanyakan orang pengennya kaya dengan jalan instan, bagian proses dan pengorbanan di skip begitu saja. Hal ini semakin di perparah dengan gaya hidup yang makin tak terkendali.

Hasilnya, lahirlah sebuah produk/jasa yang tidak bermanfaat bagi banyak orang dan ujung dari produk tersebut kurang laris di pasaran. Produk mati dan impian jadi orang kaya pupus lagi.

Kaya itu bukan hanya milik pebisnis saja, seorang profesional atau bahkan karyawan sekalipun pantas untuk kaya. Asalkan mereka bisa memantaskan diri untuk jadi kaya. Pantas disini ya ukurannya adalah seberapa penting kehadirannya bagi lingkungan kerja di sekitarnya.

Lihat saja, tidak semua yang terjun di bisnis bisa kaya, yang kaya hanya yang bisnisnya paling laris. Profesional dan karyawan pun sama halnya. Hanya yang berguna yang bisa menduduki posisi tertinggi dengan standar gaji yang pantas.

Jika kita baca biografi dari pengusaha-pengusaha kaya, mereka selalu berpesan tentang menjadi manusia yang berguna dulu bagi banyak orang dan berkontribusi untuk negeri. Itu prinsip mereka dalam membuat usaha.

Misalanya dalan buku biografi GOBEL (Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang). Selanjutnya ini menjadi visi dari perusahaan Panasonic Gobel.

Gobel selalu berpesan pada diri dan ribuan karyawannya untuk jangan mati dulu sebelum memberikan manfaat, ibarat seperti pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah meskipun ditebas berulang-ulang.

Jika kamu jeli, coba baca biografi manapun tentang orang-orang kaya. Pasti polanya yaitu memberikan manfaat dulu, semakin besar manfaat bagi orang banyak maka semakin maju bisnis tersebut.

Lihatlah facebook dalam membangun kerajaan bisnisnya, apakah tiba-tiba langsung mengkomersilkan bisnisnya?

Tidak sama sekali, investasi yang super mahal tersebut diberikan aksesnya secara gratis, Facebook membantu banyak orang di seluruh dunia dulu untuk bisa saling terhubung. Baru deh mereka buka layanan facebook Ads.

Begitupun dengan Whatsapp, manfaatnya tidak kalah besarnya bagi orang banyak.

Sebagai muslim pastinya kita begitu populer dengan pesan Baginda Nabi “sebaik-baik manusia di sisi allah adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain”.

Pesan nabi ini harusnya menjadi visi bagi setiap orang dalam menapaki hidupnya.

Jadi, kamu mau kaya? Syaratnya gampang. Cukup jadi orang yang berguna dan kamu pantas kaya.

Menarik Lainnya

Tinggalkan komentar