Kapan Kamu Bisa Klo Kerjamu Cuman Mencela

Memasuki tahun-tahun terakhir perkuliahan saya baru tersadarkan bahwa masih ada yg belum tuntas.

Masalahnya, sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional praktis saya tidak lancar cuap-cuap Bahasa Inggris, padahal ini bukan bahasa baru dalam kamus hidup saya.

6 tahun mondok saya wajib berbahasa Inggris, saat kuliah pun itu jadi mata kuliah wajib

Tapi faktanya itu tidak membuat saya bisa berbicara dengan berbahasa inggris.

Akhirnya, Kota Pare menjadi pelabuhan saya selanjutnya. Kampung Inggris menurut saya bisa jadi solusi.

Praktis memasuki 3 bulan pertama nyaris tanpa progres. Padahal saya mengambil kelas grammar sampai tingkat advance.

Harusnya saya bisa bicara, bahkan dengan susunan kata yang baik dan benar.

Sampai akhirnya saya di ingatin ama teman sekamar saya dengan nasehat sedikit bercanda.

Kurleb kata-katanya begini.

Di Pare itu ada 2 Golongan pelajar.

Pertama Golongan Grammar, sukanya salah salahin orang bicara tapi dia sendiri ga bisa bicara.

Kedua, Golongan speaking. Lancar banget bicara, urusan benar dan salah itu ntar belakangan aja.

Nasehat dengan nada canda itu menjadi poin penting bagi kehidupan saya kedepannya.

Bahwa seseorang tidak akan pernah bisa jika pandainya hanya mencela. Lupa diri kalo sebenarnya gak bisa buat apa-apa.

Dulu, pertama kali abang saya membuat WBSPro, tak terhitung jumlah orang yang mencelanya. “Aplikasi apaan ini, gak bisa di pake”. ” Gini kalo karya anak kemarin sore”. Dll.

Sampai akhirnya aplikasi kirim pesan whatsapp massal itu menjadi salah satu aplikasi terbaik di Indonesia saat ini.

Sudah ribuan orang penggunanya tersebar di seluruh Indonesia. Penggunanya bukan cuman personal, melainkan sampai perusahaan, instansi dan organisasi.

Lalu apa kabar si pencela? Bisa jadi karena udah jadi hobi, nalurinya ya mencari korban baru yang bisa dicela.

Ada baiknya energi cela dan kritik dihabiskan untuk mencoba hal-hal baru, praktekin berulang-ulang.

Taukah kamu bahwa tanpa pengulangan hukum tarik menarik itu tidak ada (Law of Attraction). Butuh yang namanya Law of Repetition (pengulangan).

Tanpa sebuah pengulangan fungsi otak tidak akan sampai pada level jenius dan otot tidak akan sampai pada level refleks istimewa.

Jadi stop mencela, repitisi adalah koentji biar kamu ga terpojok di sudut-sudut kehidupan.

Menarik Lainnya

Tinggalkan komentar