Lukman Katili, Selamanya Ustadz

Jakarta, 12 tahun silam, saat langit ibu kota masih gelap, di dalam taksi subuh itu beliau bersenandung syair dan nazham-nazham Arab yang syahdu, itu sudah kebiasaan beliau, seorang pecinta bahasa Arab yang kemampuannya diakui para ahli bahasa dunia, sesekali beliau melagukan beberapa potong ayat Qur’an, sungguh subuh yang menyentuh hati.

Di sela perbincangan ringan setelah lama tak berjumpa sejak beliau menjadi anggota dewan dan terakhir membimbingku di pondok. Di pagi yang masih gelap itu, Setelah bertanya kabar, dan sedikit menceritakan pengalaman beliau saat di perantauan, beliau sampaikan keinginan beliau untuk mundur dari jabatan anggota dewan yang baru dijalaninya selama dua tahun.

Saya dan seorang Ustadz yang ada di taksi itu kaget mendengar keputusan beliau itu. Bagaimana bisa beliau mundur, saat banyak orang di luar sana ingin ada di tempat itu.

Alasannya sederhana, bahwa beliau tidak cocok ada di tempat itu, tidak sesuai dengan jiwa dan bakat beliau. Beliau lebih senang menjadi Ustadz seperti biasa.

Alasan sederhana yang kami sudah sangat memaklumi itu, bahwa beliau memang hanya ingin menjadi Ustadz yang apa adanya, beliau merasa asing dengan manuver zig zag bin apologis ala politisi di gedongan sana. Bukan beliau a politis, beliau tetap mendukung kerja-kerja politik umat, hanya beliau lebih nyaman menjadi seorang ustadz saja.

Beliau hanya ingin menjadi Ustadz yang mengayomi seluruh kalangan. Membimbing dan mendidik umat.

Beberapa waktu sesudah perjumpaan itu terdengar kabar bahwa beliau sudah mengundurkan diri.

Sampai berganti waktu beliau terus Istiqomah memperbaiki umat dari kegelapan.

Mengajar santri di pondok, membimbing mahasiswa di kampus, sorogan kitab kuning di rumah, hikmah pagi di radio, sampai memenuhi undangan ceramah dan takziah di mana-mana.

Mengurusi MUI, Dewan Adat, dan terakhir menjalani amanah beliau sebagai Qadhi (Mufti Negeri) di Kab. Bone Bolango.

Masih tersimpan dengan rapih di atas meja ku susunan pengurus MUI yang engkau susun saat rapat di malam itu dan engkau berjibaku mempersiapkan pelantikanya di sela-sela ketabahannmu bertahan dengan sakit yang engkau alami.

Engkau selalu menasihati kami tentang sabda Rasulullah Saw yang indah itu :

“Ulama dari kalangan umatku, seperti Nabi pada Bani Israil”

Tiga tahun lalu engkau berpulang, sebagai seorang Ustadz, dalam makna guru besar yang sebenarnya besar, sebagaimana yang engkau citakan

Meninggalkan tanggung jawab umat saat banyak yang mengaku cinta agama ikut berburu mencari pundi-pundi dunia yang palsu itu.

Lalu beliau pergi meninggalkan jejak yang harum, dikenang dan dihormati.

Melebihi kebesaran nama para “raja-raja jabatan dunia” saat meninggalkan dunia yang susah payah dikejarnya.

Selamat jalan “Ta Ilo Paduma To Pituwa” ; Putra Terbaik Negeri Yang Membaktikan Hidupnya Dalam Bidang Fatwa (menjawab persoalan umat)

Engkau selamanya Ustadz di hati umat..

Lahul Fatihah..

Menarik Lainnya

Tinggalkan komentar